306084_2616483306625_1192220473_n

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih tiga jam, tim Dompet Dhuafa sampai di desa Ngebrak, kecamatan Gampengrejo, kabupaten Kediri. Hari ini kami bermaksud untuk menindak lanjuti pengajuan bantuan pengobatan yang dikirim ke Dompet Dhuafa beberapa hari sebelumnya.

Sampailah kami di rumah yang dimaksud, kami dipersilahkan masuk. Saat kami beranjak masuk ke rumah tersebut, dari dalam rumah muncullah seorang balita yang terlihat jelas memiliki kelainan pada fisiknya.

“ini mbak yang namanya Arif, ya beginilah keadaannya.” Ujar bu Yanti, ibu sang anak membuka pembicaraan.

Ya, dialah Moch. Arif Setiawan. Anak berusia 3,5 tahun pengidap tumor di mata kirinya. Berawal dari benjolan kecil saat jatuh di usia satu tahun, benjolan itu sekarang sudah menutupi mata kirinya. Bahkan pada bagian pipi kiri dan kepalanya juga terdapat benjolan dan pembekakan.

“Waktu itu masih belajar jalan mbak, lalu jatuh. Saya bawa ke puskesmas dan hanya diberi salep. Tapi lama kelamaan jadi semakin besar. Mau berobat gak ada biaya mbak, bapaknya aja hanya pekerja pabrik. Saya sudah pernah mengurus Jamkesmas, tetapi tidak lolos ketika disurvey karena rumahnya sudah bagus. Padahal rumah ini khan rumah orang tua, masa harus saya jual mbak.” Cerita bu Yanti ketika kami tanya awal sakitnya Arif.

Saya lihat lebih dekat sosok mungil itu. Dengan wajah tertunduk dia juga berusaha melihat kea rah saya. “Sakit gak matanya nak?” Tanya saya. Dia hanya diam dan menggelengkan kepalanya. “Sekarang yang sakit itu bagian pipinya yang bengkak mbak. Panas katanya. Dia itu ndak pernah rewel mbak, jarang ngeluh. Tapi kadang nanya, kapan benjolannya ini ilang” cerita bu Yanti lagi, kali ini dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Saya dekati kembali sosok mungil itu. Sekarang dia mulai berani melihat saya. “Arif kalau main sama siapa? Biasanya mainan apa?” Sambil menunduk dia menjawab “gak ono sing gelem dolanan karo aku (tidak ada yang mau mainan sama aku)”. Wajah bocah di depan saya berubah menjadi sedih. Dalam hati saya hanya bisa beristighfar.

Saat berbicara lebih jauh dengan ibu dan neneknya, tanpa sengaja Arif jatuh dan pipinya yang bengkak itu tepat mengenai pinggiran kursi dan menangislah bocah itu. Dengan air mata terurai saya berusaha menenangkan bocah yang langsung dipeluk oleh ibunya tersebut. Dan subhanallah, saya melihat ketegaran hati darinya, karena melihat saya, ibu dan neneknya menangis, dia hentikan tangisannya dan menatap saya seolah member isyarat “aku kuat kok”.

“sebagai seorang ibu saya gak tega mbak melihat Arif seperti ini. Kasihan. Dia tidak pernah keluar rumah, hanya mainan sama sepupunya di dalam rumah saja. Saya berharap Dompet Dhuafa bisa membantu kami mbak, buat pengobatannya Arif. Kami berharap sekali mbak. Minta tolong mbak” ujar bu Yanti dengan linangan air mata, di akhir perjumpaan kami.

Harapan seorang ibu untuk kesembuhan anaknya. Apakah karena biaya seorang anak yang masih panjang masa depannya, harus terkorbankan. Kami mengetuk hati masyarakat untuk bersama-sama menyelamatkan masa depan bocah kecil itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s