Pernahkan kamu merasa kecewa kepada orang yang kamu anggap sebagai saudara? Entah mungkin karena kamu merasa terkhianati atau apalah? Lalu, apa yang ingin kamu lakukan? Ingin marah? Ato bahkan ingin menghajarnya?

Percayalah, aku pernah merasakannya. Merasa harga diri diinjak-injak. Merasa dihakimi. Merasa menjadi tertuduh. Tapi, apakah aku marah? Ya! Itu manusiawi, dan wajar. Tapi tidak ingin menjadi seorang pecundang, aku berusaha bangkit, dan berkaca pada hatiku. Mengakui semua itu adalah sebuah kesalahan, adalah langkah awal yang mujarab untuk menjernihkan hati dan pikiran. Setelah itu, waktunya prosesku dengan Rabb-ku…

Tapi muncul pertanyaan dalam benakku, “apakah ini arti sebuah ukhuwah?”. Dengan mudahnya menyebarkan aib saudaranya. Dengan mudahnya men-judge saudaranya tanpa bertanya alasan atau bagaimana yang sebenarnya terjadi. Aq yakin, ini bukan ukhuwah. Karena dari buku-buku yang aku baca, ukhuwah itu indah, dan bukan seperti ini seharusnya.

Lalu apa yang salah? Aku teringat perkataan seorang ustadz, “kita ini bukan jama’ah malaikat”. Inilah yang menarik. Jama’ah ini bukan jama’ah malaikat yang tidak akan pernah berbuat kesalahan. Kita adalah jama’ah manusia, yang sesuai dengan fitrahnya, manusia itu bodoh, oleh karena itu wajar jika banyak kesalahan yang terjadi.

Dan kembali aku ingat kepada taujih ustadz yang lain “jangan melihat siapa yang menyampaikan, tapi lihatlah apa yang disampaikan. Kalau itu sebuah kebaikan, ya ambilah”. Ini hal yang menarik berikutnya. Teman, jama’ah ini tidak salah, karena apa yang diajarkan semuanya berdasar. Kalau ada kesalahan yang terjadi, itu terletak pada punggawanya. Mungkin mereka belum paham, atau mungkin saat itu mereka sedang tergoda oleh bisikan syaitan, ntah dari golongan jin atau manusia.

Di mataku, ukhuwah itu tetap indah terlihat. Di telingaku, ukhuwah itu tetap lembut terdengar. Dan dalam hatiku, ukhuwah itu tetap sejuk terasa. Semuanya menyisakan pelajaran, semuanya menyisakan hikmah. Dengan peristiwa ini, Allah menunjukkan kepadaku, siapa mereka yang menganggapku benar-benar sebagai saudara. Saudara bukan yang ketika melihat saudaranya berbuat salah, dia membiarkannya. Tetapi saudara adalah yang ketika melihat saudaranya berbuat salah, dia mengingatkan dan tidak meninggalkannya. Dan sekali lagi aku tekankan “saudara tidak akan pernah menyebarkan aib saudaranya tanpa ada usaha mengingatkan”

Atas nama ukhuwah, aku berterima kasih kepada saudara-saudaraku yang telah Allah hadirkan untukku sebagai penyejuk, sebagai pengingat. Love u coz Allah…

Saatnya bangkit, memperbaiki diri, dan kembali ke perlintasan perlombaan untuk menjadi pemenang di hadapanNya…

4 responses »

  1. malik ibrahim berkata:

    Allah akan memberikan ujian kepada hambanya untuk mengetahui seberapa besar cintanya seorang hamba kepadaNya dengan Ujian tersebut….. Saatnya Bangkit dan Berlari kembali menuju impian dan harapan yang kita inginkan….!!! Semangaaatt….

  2. Tiu_aja berkata:

    sudah ditakdirkan bawa kehidupan didunia ini berat… seberat apa? seberat apa yg kau rasakan teman… yang ringan adalah kehidupan kekal diakherat sana, krn apa?krn disana kita hny menikmati apa yg kita usahakan didunia…
    jika memang dunia sudah melihat sebelah mata, berharaplah Allah tidak seperti itu… krn dunia bukan Sang hakim, teman!!! hanya mmg banyak yg ingin mengingatkan dengan menjadi hakim, ato apapunlah persepsi mereka thdap perannya..
    Jika kau pandang jalanmu itu baik untuk mendekatkanmu dengan Allah, dan kau yakin Allah Ridho, maka melangkahlah… kl pun drmu ragu, kau juga akan tetap melangkah kan? karna berhenti disini berarti mati!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s